Untuk Kamu yang Dulu Aku Damba

Kurun setahun atau dua barangkali aku mulai melirik namamu dalam setiap baris di maya. Tulisanmu bahkan hingga kini masih menjadi yang favorit menurutku. Meski kini aku bukan milikku sendiri, aku masih menghargai betapa cepat namamu ada dalam daftar penyaksi cerita wa. Dan caramu menghargai setiap hal yang aku kerjakan adalah senyum buatku.

Kamu adalah tempat cerita buatku. Entah kamu menyadarinya atau tidak. Entah kamu mengamininya atau tidak. Tapi bagiku begitu. Menarik bukan cinta itu? Ia memberi harapan bagi setiap nyawa.

Aku sudah menyelesaikannya dengan tulisan ini. Meski kita bahkan memulai saja belum. Sudah ada seseorang lain yang berhasil mematahkan idealismeku. Ia bukan yang terbaik, bahkan mungkin tidak sebaik kamu. Tapi akupun begitu. Tidak akan ada habisnya jika kita menunggu kesempurnaan meraba kita.

Ternyata mereka sungguh kompleks, cinta itu. Tidak sejelas hitam dan putih yang aku kira. Kalau mau jujur, kadang aku suka bertanya-tanya akan seperti apa cerita kita jika memang kita saling suka dan saling menyatakan? Tapi biarlah ini menjadi cerita untukku.

Dan kepada orang lain itu, kamu berhasil merenggut diriku dan memberikan buah yang manis dan kelat di saat bersamaan. Semoga aku dan kamu selalu tahu cara menyukuri itu.

Komentar

Postingan Populer