Kepada Sang Arwah.2

Som, tiap mendengar kabar ada yang pergi bukan karena dijemput, aku ingat kamu.

'Kenapa?'

Itu jadi pertanyaan yang selalu aku ajukan kepada arwahmu. Kita tidak dekat, kita cuma teman sekelas yang mengobrol pun cuma sekali dua kali.

Entah, barangkali karena aku suka tulisanmu. Tulisan yang jenius itu, keluar dari anak berkacamata idaman semua gadis-gadis kelas. Masa SMA kita seru kan, Som?

Ingat masa SMA tidak waktu memutuskan untuk pergi itu? Seberat apa hari-harimu waktu itu, Som? Kenapa tidak berbagi?

Kita tidak dekat, tapi kamu salah satu temanku, Som. Aku tau bagaimana kamu senyum di kelas. Menyenangkan ya, Som masa remaja?

Barangkali karena aku suka sedih, makanya aku jadi lebih mudah tersentuh. Makanya aku selalu kepikiran, Som.

Semalam ada yang pergi tanpa dijemput. Dan aku ingat kamu. Salah satu teman kelas yang pernah aku harapkan suatu saat bisa kubaca lagi tulisannya. Heii aku masih ingat tulisanmu yang menang itu! Tentang rusa dan buku. Betapa bangganya kawan satu kelas kita saat itu!

Som, tidakkah ingat masa itu? Seperti apa beratnya, Som? Sampai kenangan manis itu menjelma kabut pekat yang menutup matamu? Begitu banyak tanya ya, Som?

Bagaimana di sana? Semoga nyaman ya? Ada ayahku di sana! Dia pergi di hari ini, 7 tahun yang lalu. Tapi dia menunggu jemputannya, Som. Dia tidak lancang. Dia berjuang, Som.

Kalau waktu bisa dibalik, mau kita bicara, Som?

Komentar

Postingan Populer