Kepada Sang Arwah

Sang Arwah terlalu lancang mengambil nyawa yang hanya dititipkan kepadanya. Kupikir dia terlalu egois tanpa menilai bagaimana perasaan orang lain jika tahu apa yang dia lakukan. Perasaan adik-adik yang bersandar kepadanya, perasaan ibu yang merindukan rambut tebalnya untuk diusap, perasaan ayah yang menjadikannya harapan terbesar, perasaan wanita yang diajaknya menonton film, perasaan kawan-kawannya yang sebetulnya selalu menanti kabar baiknya.

Kalau aku diberi kesempatan untuk duduk di depan Sang Arwah, aku akan meminta dia menjawab beberapa tanya. Meminta dia menceritakan apa yang selalu dia simpan. Memberi dia telinga dan bahu jika diperlukan. Bukankah terlalu lancang melakukan pembunuhan sedang kamu sebetulnya sudah dianugerahi kehidupan?

Kalau aku duduk di depan Sang Arwah, aku akan bertanya apakah ayahnya pernah memukulnya hanya karena memainkan korek yang dia tidak tahu artinya? Atau pernahkan ibunya memilih saudara lain untuk diajak pergi dari rumah ketika di dalam rumah itu kerap terjadi kegaduhan? Pernahkah dia mengharapkan tulisannya bisa dibaca orang lain tapi justru tulisan lain yang jauh lebih banyak mendapat perhatian? Atau pernahkah dia merasa sungguh takut terhadap kehidupan karena keluarganya miskin dan tidak ada yang mengarahkannya?

Memang terdengar seperti sedang mengadu nasib. Tapi sungguh, aku hanya ingin Sang Arwah berpikir lebih banyak lagi. Hidup yang diberikan Tuhan kepadanya bisa saja menjadi hidup yang didambakan orang lain. Aku tidak tahu kenapa aku marah kepada Sang Arwah. Bisa jadi karena aku kalah berani. Tetapi sungguh ketakukan ini ternyata ada baiknya. Setidaknya aku bisa mendapat jawaban atas apa yang aku pertanyakan di masa depan. Walau jawaban itu mungkin tidak sesuai dengan yang aku perkirakan.

Jika aku bisa berbicara pada Sang Arwah, maka aku lebih memilih untuk memukulnya. Jika sudah berdarah maka akan aku peluk dia. Dia boleh menangis dan bahkan mengelap ingusnya di bajuku. Tak apa. Baju yang kotor tidak lebih berharga dari masalahnya yang sedikit hanyut bersamaan air mata itu. Akan lebih baik jika setelah menangis itu dia kehilangan keberaniannya untuk membunuh.

Kepada Sang Arwah, bagaimana di sana? Aku harap Tuhan jauh lebih baik dari yang manusia duga. Aku lebih percaya bahwa Tuhan Maha Memaafkan. Pula, aku berharap, Tuhan membenarkan bahwa Dirinya salah memberi ujian kepadamu. Ada hal-hal yang nyatanya memang sungguh berat dan Tuhan seperti lepas tangan.

Komentar

Postingan Populer