Sepotong Cerita, Belum Ada Judulnya

Kami duduk berhadapan. Sedikit canggung. Ini pertama kalinya kami keluar bersama. Aku bukannya tak biasa berinteraksi dengan dia, hanya saja, kali ini pergi berdua dengan seseorang yang aku suka. Campur aduk, deh!

"Kamu inget ga pertama kali kita ketemu?" tanya dia memecah kesunyian di antara kami.

"Ingat. Namamu. Aku bilang kalau aku suka namamu," jawabku awalnya ragu.

Dia masih diam menatapku, senyum tipis. Seolah membiarkan aku bicara lagi. Ia tahu kalau aku bisa jadi sangat cerewet sama orang tertentu. Termasuk dia.

"Aku selalu antusias terhadap suatu nama. Itu bukan sesuatu yang sembarang dikasih. Nama itu doa, jadi kalau menurutku nama seseorang itu menarik, aku bakal tanya artinya. Siapa tau bisa meng-aamiin-kan."

"Kalau namamu, gimana?"

"Hmm," aku ragu sebab belum pernah dapat pertanyaan begini. "Awalnya aku suka, nama yang sederhana, semua orang tau. Nama yang indah sampai mulai sekolah, aku baru sadar kalau nama ini suka dipakai sebagai nama samaran oleh media. Banyak yang mengejek. Itu sungguh menyakitkan karena nama seharusnya jadi doa," Aku berhenti sejenak untuk menarik napas lebih dalam, "Maksudku, kenapa sih tidak pakai inisial saja? Menggunakan nama samaran yang lumrah dipakai orang tak bersalah menurutku sangat tidak manusiawi. Media harusnya tau kalau mereka bisa merusak perasaan si empunya nama."

Dia sedikit tertawa. Entah apa yang membuatnya bertingkah demikian. Aku hanya mengutarakan perasaan, apakah itu lucu?

"Tapi aku suka kok," komentarnya.

"Iya, aku juga."

"Sama aku?" godanya.

"Enggaklah! Sama namaku. Ibuku susah payah daftarin nama ini ke dukcapil tau!" Dalam hati aku mau jawab iya, tapi urung sebab aku tak mau dipandang beda. Aku terlalu takut merusak hubungan kami sekarang. Sebagai teman.

Dia tertawa lagi. Hari ini dia banyak tertawa. Sedikit senang rasanya. Meskipun sedikit takut juga. Aku takut dia tak seperti ini aslinya. Bisa saja dia sering kesusahan, bisa jadi sering sedih, bisa jadi suka marah, bisa jadi tidak biasa tertawa di rumah.

Aku ingin mengenalnya lebih jauh tapi ini bukan waktu yang tepat. Kami hanya keluar untuk membeli buku. Tidak lebih. Hanya melipir ke kedai minuman sesaat dan bercengkrama sekadar mengusir canggung. Tidak lebih.

Komentar

Postingan Populer