Cantik yang Relatif Itu Bagaimana?
Aku pernah membaca dari perspektif seorang pria. Begini kira-kira : wanita cantik itu memang memikat, tidak ada yang dapat membantah bahwa perasaan senang akan timbul setelah melihat wajah cantik.
Orang bilang cantik itu relatif. Seiring usia aku mulai sadar kalau kalimat itu cuma untuk sedikit menenangkan wanita yang di luar standar. Kalau benar cantik itu relatif, coba aku tanya, siapa sih yang dapat menyangkal cantiknya Luna Maya? Atau, siapa lagi ya contoh wanita cantik Indonesia. Ah pengetahuan selebritiku terbatas. Hm, Jennie Black Pink barangkali? Kalau tidak tahu dia, coba cari sekarang. Aku yakin kamu tak bisa menampik dia cantik.
Sedangkan yang tidak secantik standar wanita pada umumnya (baca: putih mulus tanpa noda) wanita-wanita di luar garis ini mesti berbesar hati untuk menerima posisinya. Bukan jadi yang pertama dilirik.
Cantik adalah privilese. Tidak bisa dibantah. Bermodal cantik kamu bisa jadi selebriti di era media sosial ini. Setelah jadi selebriti kamu bisa punya pemasukan. Materi itu bisa jadi modal mempercantik dirimu lagi dan memperkaya diri kemudian memberikan privilese bagi anakmu kelak. Ini secaman lingkaran setan versi menyenangkan.
Sedikit tercubit rasanya kalau mengingat kita bukan bagian dari golongan cantik ini. Apalagi kaya. Yah faktanya uang bisa memberikan poin sekian derajat lebih tinggi pada penampilanmu. Contoh paling gampang yah tak perlu mikir berjuta kali untuk beli produk perawatan wajah (baca : skincare).
Perlu kerja keras ekstra untuk bisa menjadi cantik di luar standar manusia kebanyakan. Kalau tidak cantik, kamu harusnya baik hati, atau mudah bergaul, mudah menyenangkan hati orang, atau berbakat dan pintar. Semuanya butuh usaha lebih. Duh enaknya jadi yang cantik, pintar, mudah bergaul, baik hati, apalagi kalau keluargamu bahagia. Tak ada yang perlu dirisaukan.
Duh, lagi-lagi kasian sekali orang yang dianggap jelek, ekonomi pas-pasan, tak mudah bergaul, apalagi keluarganya tak rukun-rukun amat. Dimana coba dia bisa menemukan ketenangan? Sepertinya kalimat "Bersyukur aja, orang-orang di luar sana yang kaya raya belum tentu bahagia, biasanya keluarganya kacau." Fix itu mitos!!
Memang seperti itu dunia ini. Tidak ada yang adil. Beruntungnya aku masih sedikit percaya kata pemuka agama, "Yang adil memang cuma akhirat,". Kalau kamu yang membaca ini berada di posisi tidak percaya agama, maka aku harap setidaknya kamu bisa menemukan kedamaianmu. Semua wanita berhak menjadi cantik versinya, tidak terpengaruh masyarakat apalagi pandangan pria. Namun yang terpenting adalah kamu dapat bahagia atas hidupmu tanpa perlu menyakiti orang lain. Iya, di usia 20, aku teramat sadar bahwa apapun yang kamu harapkan, sebenarnya pada dasarnya yang terbaik adalah yang membuatmu bahagia.
Semua yang aku tulis berdasarkan pandanganku setelah banyak mendengar cerita sendiri dan orang lain. Tidak bermaksud menyinggung siapapun selain Si Takdir dan tulisan ini memang tidak berbasis literatur khusus. Mungkin ada yang sulit menerima. Yah, aku tak bisa salahkan. Silahkan cari sendiri pembuktian ilmiah yang bisa kamu terima. Sebagai tambahan, barangkali kamu mau simak video ini:
https://youtu.be/HaoHBQc6waE (Narasi TV, menginspirasiku untuk menulis ini)
https://youtu.be/fTW05DvtdZ8 (Gita Savitri, pembahasan yang logis)
https://youtu.be/IdWi3I-E8cg (Satu Persen, baru aku temukan setelah menulis ini)
Komentar
Posting Komentar